Skip to main content

Cara Melakukan Cut-Loss Saham (Bagian I)

Sebelum anda belajar tentang cara melakukan cut-loss, anda perlu tahu dulu apa itu cut-loss dan mengapa harus cut-loss. Hal ini sudah saya tulis di pos "Mau Main Saham? Ingat 3 Hal Maha Penting Ini."

Hal selanjutnya yang harus anda ketahui tentang cut-loss adalah cara menentukan harga/titik cut-loss. Mengenai bagaimana menentukan titik cut-loss/stop-loss sudah saya bahas di pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham."

Nah, di pos ini saya akan membahas makna dari harga/titik cut-loss: APA yang seharusnya anda lakukan ketika harga saham mencapai harga cut-loss yang sudah anda tentukan tersebut.

Untuk memudahkan diskusi, mari kita memakai contoh di bawah ini.

Katakanlah anda membeli saham SIDO (Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul) sebanyak 100 lot di harga Rp 800 dan memakai metode cut-loss 10%. Artinya, kalau SIDO turun 10% ke harga Rp 720, anda akan cut-loss. 

Beberapa hari kemudian SIDO turun ke harga 730. Pada jam 10.28 hari tersebut, SIDO menyentuh harga "Bid" 720. (Kalau anda belum mengerti arti "Bid" dan "Offer" silahkan baca pos "Istilah 'Bid' dan 'Offer' Ketika Bermain Saham."

Apa yang harus anda lakukan?

Cut-loss, tentu saja, jawab anda. Gitu aja kok repot.

Berarti anda akan cut-loss SIDO ketika ada kejadian (Trade Done) di harga 720?

Betul sekali, jawab anda.

Walaupun volume kejadian di harga 720 hanya 1 lot? 

Eh... iya juga ya, kata anda sambil menggaruk-garuk kepala anda yang tidak gatal. Kalau cuma kejadian 1 lot, saya belum cut-loss.

Oke, kalau tidak langsung cut-loss ketika Trade Done cuma 1 lot, anda menunggu Trade Done berapa lot, baru setelah itu anda cut-loss?

Hah? Makin keras anda menggaruk kepala anda.

Sekarang anda mulai menyadari bahwa pernyataan "cut-loss kalau saham SIDO turun ke harga 720" tidaklah sehitam-putih yang anda bayangkan semula.

Jadi harusnya gimana dong?

Nah, untuk tahu bagaimana seharusnya menyikapi saham SIDO anda yang sudah turun ke harga cut-loss, anda terlebih dulu harus tahu definisi harga/titik cut-loss menurut Iyan Terus Belajar Saham:

Harga/titik cut-loss adalah harga pemicu untuk melakukan cut-loss di harga sebaik mungkin secepat mungkin.

Kata-kata  kunci di sini adalah "pemicu" dan "harga sebaik mungkin secepat mungkin."

Pemicu (bahasa Inggrisnya: trigger) ini artinya ketika saham anda mencapai harga cut-loss, kondisi mental anda adalah untuk cut-loss, untuk menutup posisi. Bukan untuk bengong, diam, tidak melakukan apa-apa. Lebih-lebih lagi bukan untuk merubah titik cut-loss (ke harga yang potensi ruginya lebih besar).

Mari kita melihat kembali contoh di atas: Ketika ada Trade Done SIDO sebanyak 1 lot di harga cut-loss anda di 720, apa yang seharusnya anda lakukan?

Mari kita mulai dulu dengan apa yang TIDAK HARUS anda lakukan.

Anda TIDAK HARUS langsung ikut menjual.

Memang harga cut-loss anda sudah terpicu. Tapi tidak berarti anda harus menjual saat itu juga. Pada bagian kalimat  "harga sebaik mungkin secepat mungkin" tersirat bahwa ketika harga cut-loss terpicu, anda BERSIAP-SIAP cut-loss. 

Dengan kata lain, terpicunya harga cut-loss TIDAK BERARTI anda harus menjual pada saat itu juga. Terpicunya harga cut-loss juga TIDAK BERARTI anda harus menjual HANYA di harga tersebut.

Apakah ini berarti saya menganjurkan anda untuk TIDAK cut-loss kalau baru ada Trade Done 1 lot di harga cut-loss?

Bukan begitu.

Yang saya tulis di atas adalah "Anda TIDAK HARUS ikut menjual." Sah-sah saja kalau anda ikut menjual, tapi sebaiknya jangan. 

Mengapa?

Karena kejadian 1 lot belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya; bisa saja "bandar" menjual 1 lot hanya untuk memicu titik cut-loss anda; bisa saja setelah anda ikut jual, saham malah berbalik naik. Lagianmenurut statistikhal yang terjadi 1 kali tidak sepatutnya dipakai untuk mengambil kesimpulan.

Yang saya anjurkan adalah anda menunggu Trade Done lebih dari 1.  Tapi semakin lama anda menunggu, semakin besar kemungkinan pemain-pemain saham lain lebih dulu menjual sehingga saham SIDO anda tidak langsung laku di harga cut-loss 720.

Nah lho.

Jual terlalu cepat, salah. Jual terlalu lambat, salah juga.

Piye, toh?

Mau tahu jawabannya? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Melakukan Cut-Loss Saham (Bagian II)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini 2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    Comments

    Popular posts from this blog

    Koleksi Buku Main Saham Iyan Terus Belajar Saham

    Minggu lalu saya membongkar dan menata ulang lemari buku di ruang kerja. Sebagai informasi, buku-buku main/trading/investasi saham yang masih sering saya baca tidak berada di ruang kerja tapi berada di meja samping tempat tidur, di atas meja TV, atau di rak di dalam kamar mandi. Buku-buku di lemari buku ruang kerja adalah buku yang belum sempat saya baca lagi. Nah, di bagian belakang lemari di situlah terletak buku-buku main saham yang sudah cukup lama tidak  saya sentuh. Supaya tidak lupa keberadaan buku-buku tersebut dan sebelum tertutup (lagi) oleh buku-buku di bagian depan, saya foto saja bagian lemari tersebut. Figure 1. Koleksi buku main/trading saham Iyan Terus Belajar Saham Dari kiri atas ke bawah lalu ke kanan atas ke bawah: 1. The Japanese Chart of Charts 2. The Volatility Edge in Options Trading 3. The Way of the Warrior-Trader 4. Stock Indexes Futures & Options 5. The Laws of Money, The Lesson of Life 6. Big Trends in Trading 7. Dynamic Trading Indicators 8. Swing T...

    Buku Pertama Belajar Analisa Teknikal

    Di pos "Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?" saya menyarankan anda (yang bingung memilih belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental) untuk memilih belajar mendalam Analisa Teknikal. Misalkan anda berniat belajar mendalam Analisa Teknikal. Bagaimana caranya? Di pos "Cara Terbaik Belajar Main Saham" saya menyatakan bahwa cara terbaik belajar main saham adalah dengan membaca buku main saham yang ditulis penulis berkualitas. Nah, kalau anda serius ingin belajar Analisa Teknikal, saran saya untuk anda adalah: beli (hard copy/buku cetak) dan baca buku Technical Analysis of the Financial Market yang ditulis John J. Murphy. Figure 1. Sampul Depan Buku John J. Murphy Technical Analysis of the Financial Markets Mengapa buku Technical Analysis of the Financial Market ? Karena buku ini membahas Analisa Teknikal dari dasar sehingga pembahasannya (relatif) mudah dimengerti oleh orang yang baru belajar Analisa Teknikal. Mengapa harus beli hard copy? Bukank...