Skip to main content

Risk-to-Reward Ratios Main Saham. Pentingkah?

Di pos "Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?" seorang pembaca, Daenuri Nunu, bertanya:

1. Menurut Mas Iyan seberapa penting risk-to-reward ratio dalam trading saham?

2. Apakah Mas Iyan menerapkan risk-to-reward ratio dalam trading plannya?

3. Jika memang penting dan Mas Iyan menggunakannya, bagaimana cara terbaik menerapkannya, apakah menentukan risk dulu baru kemudian rewardnya, atau reward terlebih dahulu baru kemudian risknya?

Bung Daenuri Nunu menambahkan bahwa, "Pertanyaan ini saya ajukan karena berdasarkan pengalaman saya yang baru seupil ini, konsisten menggunakan cut-loss memang sangat berperan penting dalam menjaga modal, namun ternyata itu tidak cukup untuk untung konsisten."

[Catatan: Risk-to-Reward Ratio adalah Rasio Resiko terhadap (Potensi) Laba.]

Figure 1. The Lost Expedition Board Game by Peer Sylvester

Jawaban saya:

1. Risk-to-reward Ratio SANGAT penting dalam bermain (trading ataupun investasi) saham.

2. Tentu saja.

3. Risk-to-reward Ratio tidak bersifat absolut karena saat mengira-ngira Risk-to-Reward Ratio suatu saham, anda hanya MENEBAK. Dengan kata lain: hanya karena anda mengira-ngira (menebak) potensi Reward adalah 3 kali Risk, tidak berarti hal tersebut pasti akan terjadi.

Cara yang benar menerapkan Risk-to-reward Ratio adalah dengan menentukan (menebak) RISK(resiko)-nya dulu. Selama menurut anda Risk LEBIH KECIL daripada potensi Reward, silahkan dilaksanakan.

Sekali lagi saya ingatkan: TIDAK ADA YANG TAHU pasti potensi reward yang akan terjadi di masa datang. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengontrol resiko.

Motto saya: Control the risk. Let the reward rewards you.


---###$$$###---


Catatan tambahan untuk jawaban di atas:


1. Contoh Risk-to-Reward Ratio 3:1

Misalkan saham KECE harganya Rp 1.000.

Menurut anda, KECE berpotensi naik ke harga 1.150.

Menurut anda juga, KECE�kalau sampai turun�paling-paling turun ke harga 950.

Potensi Reward = 1150 - 1000 = 150

Potensi Risk = 1000 - 950 = 50

Risk-to-Reward Ratio = 150 : 50 = 3 : 1


2. Tahu dari mana potensi Reward suatu saham?

Tidak ada yang tahu pasti potensi reward suatu saham.

Ketika anda mengira-ngira (alias nebak) bahwa saham KECE berpotensi naik ke harga 1.150, hal tersebut hanyalah perkiraan/tebakan. Artinya, hanya karena anda merasa saham KECE berpotensi naik ke 1.150 tidak berarti saham tersebut PASTI akan naik sampai 1.150.

Bisa saja yang terjadi adalah saham KECE naik ke 1.100 lalu turun. Bisa juga naiknya cuma sampai 1.050 lalu berangsur turun. Atau malahan KECE tidak naik dari 1.000 tapi langsung turun.

Dengan kata lain, anda TIDAK BISA mengontrol potensi reward suatu saham.


3.  Tahu dari mana potensi Risk (resiko) suatu saham?

Kalau harga saham sedang turun, tidak ada yang tahu pasti saham akan berhenti turun di harga berapa.

Artinya, hanya karena anda menebak bahwa saham KECE�kalau sampai turun�paling-paling turun ke harga 950, tidak berarti kalau saham KECE akan PASTI BERHENTI turun ketika mencapai 950.

Tapi berbeda dengan potensi Reward, potensi Risk bisa anda kontrol.

Caranya?

Tentukan titik CUT-LOSS di 950.

Artinya, kalau saham KECE turun mencapai 950, anda langsung menjual (rugi) saham tersebut di harga 950. Kalau setelah itu harga saham masih terus turun, anda sudah tidak menanggung resiko lagi.


Poin nomor 2 dan 3 adalah yang saya maksud pada kalimat "Sekali lagi saya ingatkan: TIDAK ADA YANG TAHU pasti potensi reward yang akan terjadi di masa datang. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengontrol resiko."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini 2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Buku Main Saham Iyan Terus Belajar Saham

Minggu lalu saya membongkar dan menata ulang lemari buku di ruang kerja. Sebagai informasi, buku-buku main/trading/investasi saham yang masih sering saya baca tidak berada di ruang kerja tapi berada di meja samping tempat tidur, di atas meja TV, atau di rak di dalam kamar mandi. Buku-buku di lemari buku ruang kerja adalah buku yang belum sempat saya baca lagi. Nah, di bagian belakang lemari di situlah terletak buku-buku main saham yang sudah cukup lama tidak  saya sentuh. Supaya tidak lupa keberadaan buku-buku tersebut dan sebelum tertutup (lagi) oleh buku-buku di bagian depan, saya foto saja bagian lemari tersebut. Figure 1. Koleksi buku main/trading saham Iyan Terus Belajar Saham Dari kiri atas ke bawah lalu ke kanan atas ke bawah: 1. The Japanese Chart of Charts 2. The Volatility Edge in Options Trading 3. The Way of the Warrior-Trader 4. Stock Indexes Futures & Options 5. The Laws of Money, The Lesson of Life 6. Big Trends in Trading 7. Dynamic Trading Indicators 8. Swing T...

Buku Pertama Belajar Analisa Teknikal

Di pos "Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?" saya menyarankan anda (yang bingung memilih belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental) untuk memilih belajar mendalam Analisa Teknikal. Misalkan anda berniat belajar mendalam Analisa Teknikal. Bagaimana caranya? Di pos "Cara Terbaik Belajar Main Saham" saya menyatakan bahwa cara terbaik belajar main saham adalah dengan membaca buku main saham yang ditulis penulis berkualitas. Nah, kalau anda serius ingin belajar Analisa Teknikal, saran saya untuk anda adalah: beli (hard copy/buku cetak) dan baca buku Technical Analysis of the Financial Market yang ditulis John J. Murphy. Figure 1. Sampul Depan Buku John J. Murphy Technical Analysis of the Financial Markets Mengapa buku Technical Analysis of the Financial Market ? Karena buku ini membahas Analisa Teknikal dari dasar sehingga pembahasannya (relatif) mudah dimengerti oleh orang yang baru belajar Analisa Teknikal. Mengapa harus beli hard copy? Bukank...