Skip to main content

Posts

Siapa Yang Berhak Mendapat Dividen Saham

Ketika perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham, bagaimana cara menentukan SIAPA yang berhak mendapatkan dividen? (Kalau anda belum mengerti makna dividen saham, silahkan baca pos "Arti Istilah Dividen Saham." )   Apakah anda harus mendaftar untuk mendapatkan dividen? Apakah tergantung jumlah saham yang anda miliki? Atau tergantung berapa lama anda memiliki saham tersebut? Tidak. Tidak. Dan TIDAK. Anda tidak perlu mendaftarkan kepemilikan saham anda untuk mendapatkan dividen. Anda juga tidak harus memiliki saham dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan dividen. Dan yang paling penting: hak atas dividen TIDAK tergantung jangka waktu anda memiliki saham tersebut. Jadi bagaimana tata-cara menentukan siapa yang berhak mendapatkan dividen? Hak atas dividen ditentukan hanya berdasarkan kepemilikan saham setelah bursa tutup pada tanggal CUM dividen. (Kalau anda belum tahu arti Cum dan Ex, silahkan baca pos "Arti Istilah 'Cum' dan 'Ex...

Jawab Pertanyaan Ini Sebelum Investasi Saham

Anda tertarik untuk memulai investasi saham? Sebelum anda mengambil langkah lebih lanjut, ada baiknya anda jawab dulu pertanyaan berikut: Apakah anda sudah punya rumah? Lho? anda bertanya dalam hati. Gak salah tuh? Saya kan mau investasi saham, bukan properti. Kok malah ditanya sudah punya rumah atau belum? Mungkin anda merasa tidak ada hubungan antara investasi saham dengan memiliki rumah/tempat tinggal sendiri. Tapi Peter Lynch di buku One Up on Wall Street menyatakan bahwa pertanyaan tersebut adalah hal pertama yang harus anda jawab sebelum anda memutuskan untuk mulai investasi saham. (Silahkan baca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I)." ) Mengapa begitu? Apa sebenarnya hubungan memiliki rumah sendiri dengan investasi saham? Memang tidak ada hubungan langsung. Tapi menjawab pertanyaan di atas akan menuntun anda menentukan prioritas yang benar. Artinya? Artinya: sebelum anda berinvetasi saham, anda harus terlebih ...

Arti Istilah Price-to-Earnings Ratio

Saat anda mulai belajar analisa fundamental saham, istilah pertama yang sering anda jumpai adalah Price-to-Earnings Ratio (yang biasanya disingkat PE Ratio atau PER). Di pos ini saya mencoba menjelaskan apa makna Price-to-Earnings Ratio, bagaimana cara menghitung, dan mengapa perlu tahu PE Ratio ini. Siap? Ayo kita mulai. Arti Price-to-Earnings Ratio Apa arti Price-to-Earnings Ratio? Price = harga. Earning = laba Ratio = perbandingan Kalau kita terjemahkan Price-to-Earnings Ratio artinya adalah perbandingan harga terhadap laba. Kalau kita tulis dalam rumus matematika: Price-to-Earnings Ratio (PER) = Price/Earning Pertanyaan berikutnya: Harga apa dan laba apa? Jawaban: Harga saham dan Laba per saham. Jadi, Price-to-Earnings Ratio atau PE Ratio atau PER adalah perbandingan harga saham terhadap laba per saham. Price-to-Earnings Ratio (PER) = Harga Saham/Laba Per Saham (Kalau anda belum tahu detil arti  Laba Per Saham/Earning Per Share, silahkan baca pos "Arti Istilah Earni...

Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian IV - Tamat)

Pos ini adalah lanjutan dari "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian III)." Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian I)." Di pos sebelumnya saya menulis bahwa target harga di Trading Plan terakhir bukan target harga untuk menjual saham. Fungsi target harga tersebut adalah untuk menentukan apakah anda harus menaikkan titik cut-loss sebelumnya ke titik cut-loss yang lebih tinggi lagi. Apa artinya? Artinya, karena WSKT naik sampai ke harga target ke-2 di 970, berarti anda harus MENAIKKAN lagi titik cut-loss.  Berapa besar kenaikan ini? Karena anda dari awal menentukan cut-loss sebesar 10%, berarti anda harus menaikkan titik cut-loss sebesar 10%. Nah, bukan cuma titik cut-loss yang harus anda naikkan. Target harga juga harus anda naikkan. Besar kenaikannya? Lagi-lagi 10% karena kenaikan target harga yang saya anjurkan adalah sama dengan besaran cut-loss yang anda pilih. Satu hal lagi: kar...

Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian III)

Pos ini adalah lanjutan dari "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian II)." Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian I)." Trading Plan terakhir adalah sebagai berikut: Harga modal WSKT: 800 Harga WSKT sekarang: 880. Jumlah sisa saham: 50 lot. Cut-loss kalau WSKT turun ke 800. Batas waktu: 20 hari. Realized Profit: Rp 2 juta. Menurut anda masih ada yang kurang dari Trading Plan ini. Apa ya yang kurang? Setelah berpikir cukup lama akhirnya saya sadar: Maksud anda mungkin target harga? Betul sekali bung Iyan, kata anda. Target harga jual masih belum ada. Ah, sang murid sudah mulai pintar nih. Betul sekali. Trading Plan di atas masih perlu data target harga.  Oke, bagaimana cara menentukan target harga ini? Sederhana saja. Anda masih ingat bahwa karena anda menentukan cut-loss 10%, target jual pertama adalah ketika saham naik 10%. Nah, target harga ke-2 adalah ketika saham naik 10% dari target harg...

Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian IV-Tamat)

Pos ini adalah lanjutan dari "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian III)." Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di si "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian I)." Nah, sekarang kita sampai pada Bagian III dari buku How To Make Money in Stocks. III. Investing Like a Profesional (Berinvestasi Layaknya Profesional) Kalau Bagian II saya katakan sebagai bagian terpenting dari buku ini, Bagian III (Bab 13 - Bab 20) adalah bagian yang ter-TIDAK-penting. Kok? Saya berikan sedikit gambaran tentang bab-bab tersebut. Bab 13, 14, 15 dipakai William O'Neil untuk mempromosikan produk dagangannya: koran Investor Business Daily (IBD). Blah-blah-blah. Bung Iyan kenapa anti-iklan ya? pikir anda. Nah, anda salah mengerti. Saya tidak anti-iklan. Yang saya anti adalah MEMBAYAR untuk membaca iklan. Anda tentu setuju bahwa iklan seharusnya GRATIS untuk pembaca. Anda dan saya membayar sejumlah uang untuk tahu isi buku How To Make Money In Stocks . Ti...

Saham Turun, Tidak Dijual. Sudah Rugi Atau Belum?

Misalkan anda membeli saham Semen Baturaja (SMBR) di harga Rp 600. Dasar lagi apes, SMBR perlahan-lahan turun. Sebulan kemudian SMBR bertengger di harga Rp 450. Posisi anda di atas kertas rugi, tapi anda belum berminat menjual saham ini. "Selama belum aku jual berarti belum rugi," kata anda dalam hati menghibur diri sendiri. Justifikasi anda adalah sebagai berikut: kalau belum dijual, saham masih bisa naik lagi. Jadi, sebelum saham dijual, tidak bisa dibilang sudah rugi. Benarkah logika tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat skenario berikut. Katakan saja Dian, putri anda tercinta* yang berusia 10 tahun menderita demam 40 � C. Karena demam tak kunjung turun, anda membawa Dian ke rumah sakit. Dokter ahli langsung memberi obat dan infus dan mengharuskan Dian dirawat-inap. * (Kalau anda tidak punya putri, coba bayangkan putra anda. Tidak punya juga? Coba bayangkan seseorang yang sangat anda kasihi, misalkan istri atau suami anda, ibu atau ayah anda, kakak atau ...